5 Rekap Industri Elektrikal Indonesia 2025, Tingkat Konsumsi Listrik Melonjak

2026-01-17 11:00:28








Industri elektrikal atau ketenagalistrikan Indonesia mengalami dinamika penting sepanjang tahun 2025. Perubahan ini terjadi pada kapasitas pasokan listrik hingga kebijakan energi bersih, modernisasi infrastruktur, investasi besar, serta dukungan bagi pertumbuhan sektor industri dan ekonomi digital.

 

 

Kita akan melihat bagaiamana perkembangan industri elektrikal Indonesia tahun 2025 yang telah PT Graha Anugrah Elektrindo rangkum dalam artikel berikut ini.

 

 

 

Baca Juga: 4 Tipe Lampu Emergency Exit Darurat Standar Keamanan dan Keselamatan Gedung

 

 

 

Recap Industri Elektrikal Indonesia 2025

 

 

1. Lonjakan Konsumsi Listrik dan Permintaan Energi

 

 

Indonesia menunjukkan pertumbuhan konsumsi listrik yang signifikan pada tahun 2025. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), proyeksi permintaan listrik nasional diperkirakan mencapai sekitar 430 terawatt-jam (TWh) pada 2025, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

 

Pertumbuhan konsumsi ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan dorongan digitalisasi di berbagai sektor, dari manufaktur hingga layanan online yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan andal.

 

 

2. Transisi ke Energi Terbarukan

 

 

Salah satu tema dominan di industri kelistrikan Indonesia sepanjang 2025 adalah transisi energi bersih (EBT). Pemerintah melalui Kementerian ESDM menegaskan peralihan dari sumber energi fosil ke sumber yang lebih ramah lingkungan merupakan kebutuhan nyata untuk keberlanjutan energi nasional.

 

 

Hal ini sejalan dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menetapkan sekitar 76% dari penambahan kapasitas pembangkit listrik baru akan berasal dari sumber EBT, seperti tenaga surya, angin, hidro, dan panas bumi, sedangkan sisanya berasal dari sumber fosil.

 

 

3. Proyek Energi Bersih dan Inovasi Teknologi

 

 

Dilansir Reuters, tahun 2025 menyaksikan berbagai inisiatif dan proyek energi bersih yang mulai bermunculan, yang menunjukkan komitmen terhadap transisi energi. Beberapa di antaranya adalah:

 

 

- Proyek PLTS Terapung di Waduk Saguling: Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 92 MWp yang diperkirakan akan menghasilkan listrik 130 GWh per tahun dan menurunkan emisi karbon secara signifikan.

 

- Waste-to-Power Projects (Energi dari Sampah): Danantara Indonesia memulai proyek konversi sampah menjadi energi listrik di berbagai kota besar, termasuk Jakarta dan wilayah Jawa-Bali dengan tujuan menambah kapasitas energi terbarukan sekaligus membantu mengatasi masalah sampah kota.

 

 

4. Investasi dan Pemberdayaan Industri Lokal

 

 

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong agar industri dalam negeri ikut terlibat dalam produksi komponen EBT, termasuk solar cell, baterai, panel kontrol, dan turbin untuk mendukung ekosistem kelistrikan yang lebih mandiri.

 

 

5. Tantangan dalam Transisi Energi

 

 

Salah satu tantangan besar dalam terjadinya transisi energi di Indonesia menurut IESR yaitu implementasi RUPTL dan ketertarikan investor terhadap proyek energi terbarukan masih perlu belum kuat karena beberapa faktor, seperti feasibility proyek dan kondisi pembiayaan yang menjadi perhatian penting dalam menarik partisipasi swasta secara lebih luas.

 

 

Selain itu, Indonesia masih bergantung pada sumber energi fosil untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya, sehingga tantangan transisi bersifat teknis, ekonomi, dan regulasi.

 

 

 

Baca Juga: Cara Mengecek Tegangan Listrik Lewat Meteran, Tekan Angka Kode Rahasia Ini!

 

 

 

Peluang Industri Elektrikal Indonesia 2026

 

 

Secara umum, industri elektrikal Indonesia pada 2025 mengikuti perkembangan tren industri elektrikal dan mekanikal global. Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, negara kita masih mengupayakan transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan.

 

 

Dalam RUPTL 2025-2034, sektor ketenagalistrikan Indonesia diproyeksikan mendapat investasi besar mencapai hampir Rp2.967 triliun. Hal ini membuka ruang besar bagi pelaku industri, termasuk sektor pembangkit, transmisi, distribusi, dan teknologi energi bersih untuk berkembang pesat.

 

 

Selain itu, proyek-proyek besar seperti pembangunan pabrik baterai lithium-ion berkapasitas awal 6,9 GWh di Jawa Barat, yang direncanakan beroperasi pada akhir 2026, turut membuka peluang baru di ekosistem penyimpanan energi dan kendaraan listrik.

 

 

Dengan kombinasi kebutuhan modernisasi jaringan listrik, meningkatnya permintaan energi bersih, dan dukungan kebijakan transisi energi, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi industri elektrikal Indonesia.

 

 

PT Graha Anugrah Elektrindo sebagai distributor elektrikal dan mekanikal tentunya menjadi salah satu pelaku industri yang berperan aktif dalam mendukung ketersediaan produk berkualitas, solusi layanan yang andal, serta pemenuhan kebutuhan pasar yang semakin kompleks. Di tengah perubahan teknologi dan tuntutan efisiensi energi, kami menjadi mitra distributor yang strategis bagi kontraktor, industri, dan proyek dalam memilih solusi kelistrikan yang aman, efisien, dan sesuai standar.

 

 

 

Share